Prehospital Care pada pasien trauma

Senin, 06 Desember 2010

|

Apakah pasien ditemukan pertama kali dilapangan, disamping jalan atau di instalasi emergency atau rumah sakit, prinsip dasar penanganan pertama adalah sama :
1.      Apakah korban bernafas? Jika tidak, perbaiki airway dan lakukan mouth to mouth ventilation.
2.      Apakah ada nadi/denyut jantung? Jika tidak, lakukan kompresi jantung luar.
3.      Apakah ada luka luar ? jika iya, elevasi bagian itu jika mungkin dan berikan tekanan yang cukup pada luka untuk menghentikan perdarahannya.
4.      Apakah ada kecurigaan cedera tulang belakang? Jika iya lindungi leher dan tulang belakang sebelum pasien di pindahkan.
5.      Bidai jika ada fraktur
Secepat mungkin langkah langkah ini dilakukan, pasien dapat dirujuk dengan aman.
Tatalaksana jalan nafas                                                                                     
Tatalaksana yang paling penting yang dapat diberikan sebelum sampai ke rumah sakit adalah tatalaksana jalan nafas. Jika ada kemungkinan cedera spine, lakukan immobilisasi leher sejalan dengan pertolongan jalan nafas.  Tindakan sederhana seperti pembersihan dari debris, memposisikan mandibula dan penggunaan mulut sebagai jalan nafas mungkin perlu dilakukan untuk memastikan ventilasi yang adekuat.  Sering dapat dilakukan dengan manipulasi sederhana mandibula atau penarikan lidah, khususnya pada pasien koma dan semikoma. Setelah mulut dibuka paksa, lidah dapat ditarik dengan jempol danjari telunjuk yang ditutupi dengan saputangan atau kasa. Ujung lidah sebaiknya ditarik maju keluar dari gigi depan. Mandibula juga harus dimanipulasi dengan menarik kedepan  sudut rahang bawah atau memasukkan jempol diantara barisan gigi atas dan bawah dan tarik mandibula pada garis tengahnya, dan tarik maju sampai gigi bawah lebih kedepan dari gigi atas.

Penghisapan (suction) mulut dan faring dapat membersihkannya dari darah, mucus atau muntahan sehingga dapat bernafas normal. Suction berulang mungkin perlu untuk mempertahankan jalan nafas yang adekuat setelah kecelakaan dan selama perjalan ke fasilitas kesehatan. Aspirasi vomitus, penyebab yang sering kematian mendadak harus dapat dicegah. Posisi kepala kearah lateral dan menunduk merupakan posisi terbaik bagi pasien yang kemungkinan akan muntah. Jika gagal nafas, jalan nafas harus paten dan bantuan nafas mulut ke mulut dilakukan jika tidak ada alat bantuan nafas yang lain tidak tersedia. Dalam situasi yang ekstrim, saat saluran nafas atas tersumbat dan benda asing tidak dapat dikeluarkan. Dapat dilakukan life saving dengan memasukkan jarum dengan lubang yang besar atau angiocath (14G) melalui membrane krikotiroid. Personil yang terlatih dapat juga melakukan open cricothyroidotomy jika upaya pembebasan jalan nafas yang lain tidak berhasil. Kapanpun memungkin, setiap pasien dalam kondisi tidak sadar atau syok harus dipasang endotrakeal tube sabagai kontrol pernafasan

Intravenous line                                                                                                
Akses intravena sangat penting untuk resusitasi cairan. Namun, memasang intravenous line dilapangan bisa jadi kontraproduktif karena jumlah cairan yng diberikan selama perjalanan ke rumah sakit sangat jarang bisa mengkompensasi kehilangan darah yang terjadi. Jika terjadi penundaan untuk mendapatkan terapi definitif karena jarak trasnpotasi yang jauh, infus lebih cenderung sangat bermanfaat. Infus ringer laktat merupakan cairan resusitasi kristaloid yang direkomendasikan. Dua kateter ukuran besar 14-16 harus dipasang pada ekstremitas yang tidak cedera dengan infus 2L ringer laktat untuk orang dewasa. Yang ekuivalen dengan 20ml/kgbb bolus untuk anak anak.   

Prehospital Cardiac Arrest                                                                                 
Gagal jantung setelah trauma, jika ini ditemui di tempat kecelakaan, biasanya fatal walaupun penyebabnya seperti obstruksi jalan nafas dapat di identifikasi segera. Jika trauma tumpul sebagai penyebabnya, tingkat keselamatan hamper nihil. Jika penyebabnya trauma penetrasi khususnya luka tusuk angka keselamatan lebih tinggi jika cepat dibawa ke trauma center. Dalam kondisi ini ventilasi mouth to mouth harus segera dilakukan selama rujukan( pejalanan) serta kompresi jantung luar.
Imobilisasi leher, spine dan fraktur                                                                      
Semua pasien dengan trauma tumpul yang luas harus dicurigai terjadi trauma spinal, dan pencegahan harus dilakukan untuk imobilisasi spine dan mencegah  trauma lebih lanjut. Identifikasi dan pembidaian fraktur dan imobilisasi semua bagian yang cedera sebelum dirujuk sangat esensial dalam pertolongan pertama. Penangan yang tidak tepat pada pasien cedera dapat memperburuk atau prolong shock dan memperburuk cedera yang ada melewati batas kemungkinan perbaikan. “Splint’em where they lie!” (lakukan pembidaian ditempat) aturan emergensi untuk fraktur yang hanya ada sedikit pengecualian, ketika harus memindahkan pasien dari bahaya api, ledakan, gas beracun dll. Imobilisasi harus dikerjakan dengan segera dan jangan memperlambat rujukan ke rumah sakit.
sumber : Current Diagnosis and Treatment surgery 12th Ed

0 komentar:

Poskan Komentar

following

Diberdayakan oleh Blogger.