Cara pemeriksaan Refleks-Refleks Regresi

Rabu, 24 November 2010

| 1 komentar
Bisa timbul pada berbagai penyakit yang menimbulkan gangguan di otak, seperti : demensia, pasca hipoksia serebri, pasca meningoensepalitis dll.
Pemeriksaan refleks regresi ini dapat dilakukan pada posisi penderita duduk atau berbaring
Yang termasuk refleks regresi adalah :
  • Grasp refleks : jari telunjuk dan tengah pemeriksa diletakkan pada telapak tangan penderita. Grasp refleks positif bila jari pemeriksa dipegang oleh penderita
  • Suck Refleks : positif bila penderita memonyongkan bibirnya saat bibirnya disentuh oleh sesuatu (kapas, pensil atau benda lain)
  • Snout refleks : otot-otot orbikularis oris akan berkontraksi bila bibir atas atau bawah diketuk
  • Glabela refleks : positif bila setiap kali glabela nya diketuk maka matanya akan terpejam. pada orang sehat pemejaman mata pada pengetukan glabela hanya terjadi 2 atau 3 kali saja (pengetukan glabela dilakukan dari arah kepala penderita bukan dari depan. sehingga tidak menimbulkan positif palsu (refleks ancam)
  • Palmomental refleks : Positif bila goresan pada kulit thenar membangkitkan kontraksi otot mentalis (dagu) ipsilateral
  • Corneomandibular refleks : positif bila penggoresan kornea menimbulkan pemejaman mata ipsi lateral dan disertai gerakan mandibula kesisi kontralateral
  • Refleks kaki tonik : positif bila penggoresan pada telapak kaki dapat membangkitkan kontraksi tonik kaki berikut jari-jarinya.

Kateterisasi uretra

Jumat, 19 November 2010

| 0 komentar
kateterisasi uretra adalah memasukkan kateter ke dalam buli buli melalui uretra.

Tujuan Kateterisasi                                                                                              
Tindakan diagnosis
1.       Untuk memperoleh contoh urine untuk pemeriksaan kultur pada wanita dewasa
2.       Untuk mengukur residu (sisa) urine setelah pasien miksi (deteksi BPH)
3.       Untuk memasukkan bahan kontras untuk pemeriksaan radiologi
4.       Pemeriksaan urodinamik menentukan tekanan intravesika
5.       Untuk menilai produksi urine

Tujuan terapi
1.       Untuk mengeluarkan urine dari buli buli pada keadaan obstruksi infra vesika
2.       Mengeluarkan urine pada disfungsi buli
3.       Diversi urine setelah tindakan operasi sistem urinaria bagian bawah
4.       Sebagai splint setelah operasi rekonstruksi uretra
5.       Memasukkan obat obatan intra vesika
6.       Pemakaian kateter secara bersih mandiri berkala
7.   Mengeluarkan darah atau endapan (clots)
Kateter untuk diagnostik dilepas setelah tujuan selesai, untuk terapi dipertahankan sampai tujuan terpenuhi . Biasanya diganti setiap 2-3 minggu. Dewasa normal pemsangan kateter untuk drainase digunakan ukuran 16F-18F

Kontraindikasi pemasangan kateter                                                                    
Trauma pada uretra atau dicurigai,  tandanya : ada darah di meatus uretra eksterna, gross hematuria atau perineal hematoma

Cara pemasangan Kateter                                                                                   
Bahan dan Alat
1.       Sabun cuci tangan
2.       Sarung tangan (hand schoen) steril
3.       Betadine
4.       Doek steril
5.       Kateter
6.       Jelly
7.       Spuit 10 cc
8.       NaCl 0,9 % atau aqua steril
9.       Urine bag
Prosedur
1.       Operator mencuci tangan dengan sabun terlebih dahulu pada air kran mengalir
2.       Operator memakai hand schoen secara aseptik
3.       Lakukan disinfeksi secukupnya dengan memakai bahan anti septik yang tidak menimbulkan iritasi pada kulit genitalia
4.       Lalu sekitar genitalia ditutupi dengan doek steril
5.       Kateter yang telah tersedia diolesi dengan jelly secukupnya laulu dimasukkan kedalam orifisium uretra eksterna
6.       Pelan-pelan kateter didorong masuk, kira-kira didaerah bulbomembranacea (sfingter uretra eksterna) akan terasa ada tahanan, dalam hal ini pasien disuruh untuk nafas dalam supaya sfingter uretra eksterna jadi rilaks.
7.       Kemudian kateter terus didorong masuk ke vesika urinaria ditandai dengan kelaurnya urine dari lobang kateter
8.       Sebaiknya kateter terus didorong sampai percabangan kateter menyentuh meatus uretra eksterna
9.       Balon kateter dikembangkan dengan 10-15cc cairan NaCl 0,9% atau aqua steril (biasanya 15cc)
10.   Jika kateter menetap (tujuan terapi ) dihubungkan dengan urine bag
Prosedur diatas adalah untuk pria pada wanita biasanya jarnag dijumpai kesulitan karena uretranya lebih pendek. Biasanya kesulitan mencari meatus uretra, kadang karena stenosis pada muara uretra. Untuk kondisi ini sebelum pemasangan kateter dilakukan dilatasi dahulu dengan bougie


Bila terjadi kesulitan pemasangan karena ketegangan spingter eksterna pasien karena pasien kesakitan atau ketakutan dapat di atasi dengan :
1.       Menekan tempat tertahan tadi dengan ujung kateter kira kira beberapa menit sampai terjadi relaksasi sfingter.
2.       Pemberian anantesi topikal berupa campuran lidokain hidroklorida 2% dengan jelly 10-20 cc, dimasukkan peruretra sebelum melakukan kateterisasi
3.       Pemberian sedatif parenteral sebelum kateterisasi

Video pemasangan kateter                                                                                 












Andalas University Blog Competition 2010

Kamis, 18 November 2010

| 1 komentar
unand akan mengadakan kompetesi untuk para mahasiswa yang berminat apalagi yang berbakat ngeblog.. 
akan diadakan 15 november - 31 desember 2010
katanya juga ada hadiahnya sih (jutaan), tapi kalaupun ga menang kan udah ngebantu kampus kita juga untuk peningkatan rangking webometrics Unand  demi Unand World Class University.

untuk selengkapnya silahkan kunjungi : http://blog.unand.ac.id/
 

Teknik penjahitan Kulit (Skin Suturing)

Minggu, 14 November 2010

| 0 komentar

Penjahitan luka dimaksudkan untuk mempertemukan dan mempertahankan posisi kedua permukaan luka tanpa mengganggu peredaran darah setempat supaya luka dapat sembuh per primam intentionem (penyembuhan tanpa komplikasi, cepat dan secara kosmetik baik

Simple interrupted                                                                                               


                                                                                                                                                          

Dibuat dengan jarak 1 cm antar jahitan
Keuntungan : bila benang putus hanya satu tempat yang terbuka dan bila terjadi infeksi luka cukup dibuka jahitan ditempat terjadinya infeksi
Kerugian : butuh waktu yang lebih lama untuk mengerjakannya



Continues                                                                                                             








Keuntungan : pengerjaan lebih cepat
Kerugian : bila ada bagian yang putus menyebabkan semua luka dapat terbuka. Bergitupun saat terjadi infeksi semua luka dapat terbuka



Mattrees  (vertical dan horizontal)                                                                    






Keuntungan : luka tertutup rapat sampai ke dasar luka sehingga dapat dihindari terjadinya rongga didasar luka



Subcuticular                                                                                                          



Melakukan jahitan continues pada jaringan lemak tepat dibawah kulit. Hasilnya rapi dan sering tidak tampak
Keuntungan : baik secara kosmetik

Pemilihan benang jahit bedah untuk luka operasi

| 2 komentar
Jenis benang                                                   

Ada tiga hal yang menentukan  pemilihan jenis benang jahit, yaitu jenis bahannya, kemampuan tubuh untuk menyerapnya dan susunan filamentnya. 
Benang yang dapat diserap melalui reaksi enzimatik pada cairan tubuh kini banyak dipakai. Penyerapan benang oleh jaringan dapat berlangsung antara tiga hari sampai tiga bulan tergantung jenis benang dan kondisi jaringan yang dijahit.
Menurut bahan asalnya, benang dibagi dalam benang yang terbuat dari usus domba meskipun namanya catgut dan dibedakan dalam catgut murni yang tanpa campuran dan catgat kromik yang bahannya bercampur larutan asam kromat. Catgut murni diserap cepat, kira kira dalam waktu satu minggu sedangkan catgut kromik diserap lebih lama kira kira 2-3 minggu.
Disamping itu ada benang yang terbuat dari bahan sintetik, baik dari asam poliglikolik maupun dari poliglaktin-910 yang inert dan memiliki daya tegang yang besar. Benang ini dalam dipakai pada semua jaringan termasuk kulit. Benang yang dapat diserap menimbulkan reaksi jaringan setempat yang dapat menyebabkan fistel benang atau infiltrate jaringan yang mungkin ditandai adanya indurasi.
Benang yang tidak dapat diserap oleh tubuh terbuat umumnya dari bahan yang tidak menimbulkan reasksi jaringan karena bukan merupakan bahan biologik. Benang ini dapat berasal dari sutera yang sangat kuat dan liat, dari kapas yang kurang kuat dan mudah terurai, dan dari polyester yang merupkan bahan sintetik yang kuat dan biasanya dilapisi Teflon. Selain itu terdapat juga benang nailon yang berdaya tegang besar, yang terbuat dari polipropilen yang terdiri atas bahan yang sangat inert dan baja yang terbuat dari baja tahan karat.
Karena tidak dapat diserap maka benang akan tetap berada di jaringan tubuh. Benang jenis ini biasanya di gunakan pada jaringan yang sukar sembuh. Bila terjadi infeksi akan terbentuk fistel yang baru dapat sembuh setelah benang yang bersifat benda asing dikeluarkan.
Benang alami terbuat dari sutera atau kapas. Kedua bahan alami ini dapat bereaksi dengan jaringan tubuh meskipun minimal karena mengandung juga bahan kimia alami. Daya tegangnya cukup dan dapat diperkuat bila dibasahi terlebih dahulu dengan larutan garam sebelum digunakan.
Bahan sintetik terbuat dari polyester, nailon atau polipropilen yang umumnya dilapisi oleh bahan pelapis Teflon atau Dacron. Dengan lapisan ini, permukaannya lebih mulus sehingga tidak mudah bergulung atau terurai. Benang mempunyai daya tegang yang besar dan dipakai untuk jaringan yang memerlukan kekuatan penyatuan yang besar.
Menurut bentuk untaian seratnya, benang dapat berupa monofilament bila hanya terdiri dari satu serat saja, dan polifilamen bila terdiri atas banyak serat yang diuntai menjadi satu. Cara menguntainya dapat sejajar dibantu bahan pelapis atau di untai bersilang sehingga penampangnya lebih bulat, lebih lentur dan tidak mudah bergulung.
Benang baja dapat berbentuk monofilament atau polifilamen, sering dipakai pada sternum setelah torakotomi, jika terkontaminasi mudah terjadi infeksi.



Seide (silk/sutera)
Bersifat tidak licin seperti sutera biasa karena sudah dikombinasi dengan perekat, tidak diserap tubuh. Pada penggunaan disebelah luar maka benang harus dibuka kembali.
Warna : hitam dan putih
Ukuran : 5,0-3
Kegunaan : menjahit kulit, mengikat pembuluh arteri (arteri besar) dan sebagai teugel (kendali)

Plain catgut
Diserap tubuh dalam waktu 7-10 hari
Warna : putih dan kekuningan
Ukuran : 5,0-3
Kegunaan : untuk mengikat sumber perdarahan kecil, menjahit subkutis dan dapat pula dipergunakan untuk menjahit kulit terutama daerah longgar (perut, wajah) yang tak banyak bergerak dan luas lukanya kecil.
Plain catgut harus disimpul paling sedikit 3 kali, karena dalam tubuh akan mengembang.

Chromic catgut
Berbeda dengan plain catgut, sebelum dipintal ditambahkan krom, sehinggan menjadi lebih keras dan diserap lebih lama 20-40 hari.
Warna : coklat dan kebiruan
Ukuran : 3,0-3
Kegunaan : penjahitan luka yang dianggap belum merapat dalam waktu 10 hari, untuk menjahit tendo untuk penderita yang tidak kooperatif dan bila mobilisasi harus segera dilakukan.

Ethilon
Benang sintetis dalam kemasan atraumatis (benang langsung bersatu dengan jarum jahit) dan terbuat dari nilon lebih kuat dari seide atau catgut. Tidak diserap tubuh, tidak menimbulkan iritasi pada kulit dan jaringan tubuh lain
Warna : biru dan hitam
Ukuran : 10,0-1,0
Penggunaan : bedah plastic, ukuran yang lebih besar sering digunakan pada kulit, nomor yang kecil digunakan pada bedah mata.

Ethibond
Benang sintetis(polytetra methylene adipate). Kemasan atraumatis. Bersifat lembut, kuat, reaksi terhadap tubuh minimum, tidak terserap.
Warna : hiaju dan putih
Ukuran : 7,0-2
Penggunaan : kardiovaskular dan urologi

Vitalene
Benang sintetis (polimer profilen), sangat kuat lembut, tidak diserap. Kemasan atraumatis
Warna : biru
Ukuran : 10,0-1
Kegunaan : bedah mikro terutama untuk pembuluh darah dan jantung, bedah mata, plastic, menjahit kulit

Vicryl
Benang sintetis kemasan atraumatis. Diserap tubuh tidak menimbulkan reaksi jaringan. Dalam subkuitis bertahan 3 minggu, dalam otot bertahan 3 bulan
Warna : ungu
Ukuran : 10,0-1
Penggunaan : bedah mata, ortopedi, urologi dan bedah plastic

Supramid
Benang sintetis dalam kemasan atraumatis. Tidak diserap
Warna : hitam dan putih
Kegunaan : penjahitan kutis dan subkutis

Linen
Dari serat kapas alam, cukup kuat, mudah disimpul, tidak diserap, reaksi tubuh minimum
Warna : putih
Ukuran : 4,0-0
Penggunaan : menjahit usus halus dan kulit, terutama kulit wajah

Steel wire
Merupakan benang logam terbuat dari polifilamen baja tahan karat. Sangat kuat tidak korosif, dan reaksi terhadap tubuh minimum. Mudah disimpul
Warna : putih metalik
Kemasan atraumatuk
Ukuran : 6,0-2
Kegunaan : menjahit tendo

Ukuran benang                                               

Ukuran benang dinyatakan dalam satuan baku eropa atau dalam satuan metric. Ukuran terkecil standar eropa adalah 11,0 dan terbesar adalah ukuran 7.
Ukuran benang merupakan salah satu factor yang menentukan kekuatan jahitan. Oleh karena itu pemilihan ukuran benang untuk menjahit luka bedah bergantung pada jaringan apa yang dijahit dan dengan pertimbangan factor kosmetik. Sedangkan kekuatan jahitan ditentukan oleh jumlah jahitan, jarak jahitan, dan jenis benangnya. Pada wajah digunakan ukuran yang kecil (5,0 atau 6,0)

Lokasi penjahitan
Jenis benang
Ukuran
Fasia
Semua
2,0-1
Otot
Semua
3,0-0
Kulit
Tak diserap
2,0-6,0
Lemak
Terserap
2,0-3,0
Hepar
Kromik catgut
2,0-0
Ginjal
Semua catgut
4,0
Pancreas
Sutera atau kapas
3,0
Usus halus
Catgut, sutera, kapas
2,0-3,0
Usus besar
Kromik catgut
4,0-0
Tendon
Tak terserap
5,0-3,0
Kapsul sendi
Tak terserap
3,0-2,0
Peritoneum
Kromik catgut
3,0-2,0
Bedah mikro
Tak terserap
7,0-11,0

Sumber :              Buku ajar ilmu bedah, R Sjamsuhidajat dan Wim de Jong
                                Bedah minor, dr. Sumiardi Karakata dan dr. Bob Bachsinar



following

Diberdayakan oleh Blogger.