Teknik Pemeriksaan Tekanan Intra Okular

Jumat, 04 Februari 2011

| 5 komentar

Tonometri digital palpasi
Merupakan pengukuran tekanan bola mata dengan jari pemeriksa
Alat : jari telunjuk kedua tangan pemeriksa
Teknik :
  • Mata ditutup
  • Pandangan kedua mata menghadap kebawah
  • Jari-jari yang lain bersandar pada dahi dan pipi pasien
  • Kedua jari telunjuk menekan bola mata pada bagian belakang kornea bergantian
  • Satu telunjuk mengimbangi saat telunjuk lain menekan bola mata
Nilai : didapat kesan berapa ringannya bola mata ditekan
Tinggi rendahnya tekanan dicatat sebagai berikut : N : normal, N+1 : agak tinggi, N+2 : lebih tinggi lagi, N-1 : lebih rendah dari normal dst.
Keuntungan :
cari ini sangat baik pada kelainan mata bila tonometer tidak dapat dipakai atau sulit
Kekurangan :
cari ini memerlukan pengalaman pemeriksa karena terdapat faktor subjektif

Tonometri Schiotz

Tonometer Schiotz merupakan tonometer indentasi atau menekan permukaan kornea dengan beban yang dapat bergerak bebas pada sumbunya. Benda yang ditaruh pada bola mata (kornea) akan menekan bola mata kedalam dan mendapatkan perlawanan tekanan dari dalam melalui kornea. Keseimbangan tekanan tergantung beban tonometer.
Alat dan Bahan : Tonometer Schiotz dan anestesi local (pantokain 0.5%)
Teknik :
  • Pasien diminta rileks dan tidur telentang
  • Mata diteteskan pantokain dan ditunggu sampai pasien tidak merasa perih
  • Kelopak mata pasien dibuka dengan telunjuk dan ibu jari, jangan sampai bola mata tertekan
  • Pasien diminta melihat lurus keatas dan telapak tonometer Schiotz diletakkan pada permukaan kornea tanpa menekannya
  • Baca nilai tekanan skala busur schiotz yang berantara 0-15. Apabila dengan beban 5.5 gr (beban standar) terbaca kurang dari 3 maka ditambahkan beban 7.5 atau 10 gr.
Nilai : pembacaan skala dikonversikan pada table tonometer schoitz untuk mengetahui tekanan bola mata dalam mmHg
Pada tekanan lebih dari 20mmHg dicurigai glaucoma, jika lebih dari 25 mmHg pasien menderita glaucoma.
Angka skala
Tekanan bola mata (mmHg) berdasarkan masing masing beban
5.5 gr
7.5 gr
10 gr
3.0
24.4
35.8
50.6
3.5
22.4
33.0
46.9
4.0
20.6
30.4
43.4
4.5
18.9
28.0
40.2
5.0
17.3
25.8
37.2
5.5
15.9
23.8
34.4
6.0
14.6
21.9
31.8
6.5
13.4
20.1
29.4
7.0
12.2
18.5
27.2
7.5
11.2
17.0
25.1
8.0
10.2
15.6
23.1
8.5
9.4
14.3
21.3
9.0
8.5
13.1
19.6
9.5
7.8
12.0
18.0
10.0
7.1
10.9
16.5
Kekurangan : tonometer schiotz tidak dapat dipercaya pada penderita myopia dan penyakit tiroid dibanding dengan tonometer aplanasi karena terdapat pengaruh kekakuan sclera pada penderita myopia dan tiroid.



Tonometri aplanasi

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendapatkan tekanan intra ocular dengan menghilangkan pengaruh kekakuan sclera dengan mendatarkan permukaan kornea.
Tekanan merupakan tenaga dibagi dengan luas yang ditekan. Untuk mengukur tekanan mata harus diketahui luas penampang yang ditekan alat sampai kornea rata dan jumlah tenaga yang diberikan. Pada tonometer Aplanasi Goldmann jumlah tekanan dibagi penampang dikali 10 dikonversi dalam mmHg tekanan bola mata. Dengan tonometer aplanasi tidak diperhatikan kekakuan sclera karena pada tonometer ini pengembangan dalam mata 0.5 mm 3 sehingga tidak terjadi pengembangan sclera yang berarti. Pada tonometer schiotz , pergerakan cairan bola mata sebanyak 7-14 mm3 sehingga kekakuan sclera memegang peranan dalam penghitungan tekanan bola mata
Alat :
  • Slit lamp dengan sinar biru
  • Tonometer Aplanasi
  • Flouresein strip
  • Obat anastesi local
Teknik :
  • Mata yang akan diperiksa diberi anastesi topical pantocain 0.5%
  • Pada mata tersebut ditempelkan kertas flouresein yaitu pada daerah limbus inferior. Sinar oblik warna biru disinarkan dari slit lamp kedasar telapak prisma tonometer Aplanasi Goldmann
  • Pasien diminta duduk dan meletakkan dagunya pada slitlamp dan dahinya tepat dipenyangganya.
  • Pada skala tonometer aplanasi dipasang tombol tekanan 10mmHg
  • Telapak prisma aplanasi didekatkan pada kornea perlahan lahan
  • Tekanan ditambah sehingga gambar kedua setengah lingkaran pada kornea yang telah diberi flouresein terlihat bagian luar berhimpit dengan bagian dalam
  • Dibaca tekanan pada tombol putaran tonometer aplanasi yang member gambaran setengah lingkaran yang berhimpit. Tekanan tersebut merupakan TIO dalam mmHg.

Nilai : dengan tonometer Aplanasi, jika TIO > 20 mmHg sudah dianggap menderita glaucoma.





Textbooks Ophthalmology

Kamis, 03 Februari 2011

| 2 komentar
judul : Vaughan & Asbury's General Ophthalmology
editor/pengarang :
file tipe : 26.6 MB rar
penerbit : 
 




download link :
http://hotfile.com/dl/77024968/bba8a29/GENERAL_OPHTHALMOLOGY.part1.rar.html
http://hotfile.com/dl/77026898/8d294ce/GENERAL_OPHTHALMOLOGY.part2.rar.html
(gunakan winrar untuk menggabungkan nya)
download Winrarclick here


kedua 

judul : Clicinal Procedures in Primary Eye Care
editor/pengarang :David B. Elliott
file tipe : 9 MB rar
penerbit :
download link :
http://www.filefactory.com/file/a1a0813/n/0750688963_rar
download Winrarclick here




ketiga

judul : Ophthalmology : A Short Textbook
editor/pengarang :  Gerhard K. Lang
file tipe : 18 MB rar
penerbit : Thieme








download link : berurutan part 1-4
http://www.mediafire.com/?rgndxg0mnqr
http://www.mediafire.com/?xbgwpmny2mj
http://www.mediafire.com/?5jmyt1yklwn
http://www.mediafire.com/?13vuwjtmx0c
(gunakan winrar untuk menggabungkan nya)
download Winrarclick here

keempat

judul : Comprehensive Ophthalmology
editor/pengarang : A.K Khurana
file type : 17 MB pdf
download link : click here

Prosedur Pemberian Oksigen pada Pasien

| 0 komentar

Merupakan tindakan pemberian oksigen saat terganggunya oksigenasi jaringan. Tujuannya untuk mendapatkan oksigenasi yang adekuat sekalian meminimalkan kerja kardiopulmonal.
Oksigen merupakan obat bila sesuai dosis,juga mempunnyai efek samping. Namun bila diberikan dengan benar akan dapat membantu life saving.
Kapan diberikan?
  • Hipoksia jaringan sangat sulit untuk diketahui, dengan manifestasi klinik yang tidak spesifik termasuk perubahan status mental, dispnea, sianosis, takipnea, aritmia dan koma.
  • Untuk menatalaksana hipoksia jaringan harus dulu memperbaiki hipoksemia arteri ( pada kelainan kardiopulmonal ; emboli paru, pneumonia, asma), atau kelainan dalam transport (anemia, low cardiac output) dan berbagai penyakit penyerta lain
  •  Ingat!!! SaO2/PaO2 dapat saja normal jika hipoksia jaringan disebabkan oleh keadaan low cardiac output.
Prosedur
-          Terangkan apa yang terjadi kepada pasien dan minta izin melakukan tindakan
-          Tentukan oxygen delivery device yang tepat
-          Tentukan dosis initial
o   Gagal nafas atau gagal jantung : 100 %
o   Hipoksemia dengan PaCO2 < 5.3 kPa : 40-60%
o   Hipoksemia dengan PaCO2 > 5.3 kPa : 24 % untuk dosis awal
-          Tentukan level SaO2 atau PaO2 yang diinginkan lalu sesuaikan pemberian oksigen
-          Selalu pantau SaO2 dan atau ulangi pemeriksaan PaO2 dalam 30 menit
-          Jika hipoksemia berlanjut, pasien mungkin akan membutuhkan alat bantu pernafasan baik invasive maupun non invasive
-          Hentikan pemberian oksigen jika hipoksia jaringan atau hipoksemia telah teratasi.

Oxygen administration equipment
Metode pemberian akan tergantung pada tipe dan keparahan kegagalan pernafasan, breathing pattern, frekwensi nafas, resiko terjadi retensi CO2 , serta kebutuhan akan kepatuhan pasien.

Nasal cannule
Pemberian oksigen langsung melalui nasal prongs
-          Dapat digunakan untuk jangka panjang
-          Mencegah rebreathing
-          Dapat digunakan selama makan dan berbicara
Iritasi lokal, dermatitis dan perdarahan hidung dapat terjadi dan volume pemberian diatas 4l/min tidak boleh diberikan secara rutin.
Low flow oxygen masks
Konsentrasi oksigen yang terhirup tergantung dari kemampuan pernafasan pasien. Dapat terjadi rebreathing udara yang diekspirasikan( karena tidak keluar secara sempurna dari sungkupnya)

Fixed performance masks
Dapat memberikan konsentrasi oksigen yang konstan, tidak tergantung pada kemampuan pernafasan pasien.

Partial and non-rebreathe masks
Mempunyai semacam kantong reservoir yang diisi penuh dengan oksigen murni dan yang mengandalkan system katup sehingga tidak terjadi percampuran antara oksigen dengan udara yang diekspirasikan.

High-flow oxygen
Sungkup (Mask) atau nasal prong yang mengalirkan oksigen 50-120 L/min menggunakan high flow regulator untuk memasukkan udara dan oksigen dalam konsentrasi yang ditentukan. 


Belajar anatomi lebih menarik dengan Google body browser (3D)

Sabtu, 18 Desember 2010

| 0 komentar
dikutip dari Antara news:

Google kini mengembangkan sebuah browser baru yang mampu memetakan keseluruhan tubuh manusia yang disebut  Google Body Browser,  aplikasi 3D berteknologi tinggi sebagai terobosan dalam penelitian anatomi.

Gadget itu, belum secara resmi di luncurkan, memungkinkan anda mengeksplorasi tubuh manusia, mirip dengan cara kita bernavigasi dengan Google Earth.

Google Body Browser juga  mendorong pengenalan teknologi baru internet yang disebut WebGL, yang memungkinkan grafik kompleks 3D digunakan dalam halaman web normal, tanpa harus secra khusus mengadaptasi plug in browser seperti flash atau java.

Dalam video itu, browser digunakan untuk memeriksa tubuh manusia dan mengenali organ, tulang dan kelompok otot.
Tubuh di Google Body bisa diputar, di manipulasi dan ditunjukkan hingga tulang guna mengetahui bagaimana fungsi dan terhubungnya tulang.

Menjelang versi resminya,  Google meluncurkan versi lain yang tersedia dalam webGL- yang mendukung browser atau firefox beta version dan Google Chrome, yang dapat diunduh dari situs Google body browser  (http://bodybrowser.googlelabs.com).

untuk dapat menggunakan google body browser, browser yang kita gunakan harus telah mendukung teknologi webGL, silahkan download disini :
Firefox beta version : http://www.mozilla.com/en-US/firefox/all-beta.html
Build Google chrome canary : http://tools.google.com/dlpage/chromesxs




Prehospital Care pada pasien trauma

Senin, 06 Desember 2010

| 0 komentar

Apakah pasien ditemukan pertama kali dilapangan, disamping jalan atau di instalasi emergency atau rumah sakit, prinsip dasar penanganan pertama adalah sama :
1.      Apakah korban bernafas? Jika tidak, perbaiki airway dan lakukan mouth to mouth ventilation.
2.      Apakah ada nadi/denyut jantung? Jika tidak, lakukan kompresi jantung luar.
3.      Apakah ada luka luar ? jika iya, elevasi bagian itu jika mungkin dan berikan tekanan yang cukup pada luka untuk menghentikan perdarahannya.
4.      Apakah ada kecurigaan cedera tulang belakang? Jika iya lindungi leher dan tulang belakang sebelum pasien di pindahkan.
5.      Bidai jika ada fraktur
Secepat mungkin langkah langkah ini dilakukan, pasien dapat dirujuk dengan aman.
Tatalaksana jalan nafas                                                                                     
Tatalaksana yang paling penting yang dapat diberikan sebelum sampai ke rumah sakit adalah tatalaksana jalan nafas. Jika ada kemungkinan cedera spine, lakukan immobilisasi leher sejalan dengan pertolongan jalan nafas.  Tindakan sederhana seperti pembersihan dari debris, memposisikan mandibula dan penggunaan mulut sebagai jalan nafas mungkin perlu dilakukan untuk memastikan ventilasi yang adekuat.  Sering dapat dilakukan dengan manipulasi sederhana mandibula atau penarikan lidah, khususnya pada pasien koma dan semikoma. Setelah mulut dibuka paksa, lidah dapat ditarik dengan jempol danjari telunjuk yang ditutupi dengan saputangan atau kasa. Ujung lidah sebaiknya ditarik maju keluar dari gigi depan. Mandibula juga harus dimanipulasi dengan menarik kedepan  sudut rahang bawah atau memasukkan jempol diantara barisan gigi atas dan bawah dan tarik mandibula pada garis tengahnya, dan tarik maju sampai gigi bawah lebih kedepan dari gigi atas.

Penghisapan (suction) mulut dan faring dapat membersihkannya dari darah, mucus atau muntahan sehingga dapat bernafas normal. Suction berulang mungkin perlu untuk mempertahankan jalan nafas yang adekuat setelah kecelakaan dan selama perjalan ke fasilitas kesehatan. Aspirasi vomitus, penyebab yang sering kematian mendadak harus dapat dicegah. Posisi kepala kearah lateral dan menunduk merupakan posisi terbaik bagi pasien yang kemungkinan akan muntah. Jika gagal nafas, jalan nafas harus paten dan bantuan nafas mulut ke mulut dilakukan jika tidak ada alat bantuan nafas yang lain tidak tersedia. Dalam situasi yang ekstrim, saat saluran nafas atas tersumbat dan benda asing tidak dapat dikeluarkan. Dapat dilakukan life saving dengan memasukkan jarum dengan lubang yang besar atau angiocath (14G) melalui membrane krikotiroid. Personil yang terlatih dapat juga melakukan open cricothyroidotomy jika upaya pembebasan jalan nafas yang lain tidak berhasil. Kapanpun memungkin, setiap pasien dalam kondisi tidak sadar atau syok harus dipasang endotrakeal tube sabagai kontrol pernafasan

Intravenous line                                                                                                
Akses intravena sangat penting untuk resusitasi cairan. Namun, memasang intravenous line dilapangan bisa jadi kontraproduktif karena jumlah cairan yng diberikan selama perjalanan ke rumah sakit sangat jarang bisa mengkompensasi kehilangan darah yang terjadi. Jika terjadi penundaan untuk mendapatkan terapi definitif karena jarak trasnpotasi yang jauh, infus lebih cenderung sangat bermanfaat. Infus ringer laktat merupakan cairan resusitasi kristaloid yang direkomendasikan. Dua kateter ukuran besar 14-16 harus dipasang pada ekstremitas yang tidak cedera dengan infus 2L ringer laktat untuk orang dewasa. Yang ekuivalen dengan 20ml/kgbb bolus untuk anak anak.   

Prehospital Cardiac Arrest                                                                                 
Gagal jantung setelah trauma, jika ini ditemui di tempat kecelakaan, biasanya fatal walaupun penyebabnya seperti obstruksi jalan nafas dapat di identifikasi segera. Jika trauma tumpul sebagai penyebabnya, tingkat keselamatan hamper nihil. Jika penyebabnya trauma penetrasi khususnya luka tusuk angka keselamatan lebih tinggi jika cepat dibawa ke trauma center. Dalam kondisi ini ventilasi mouth to mouth harus segera dilakukan selama rujukan( pejalanan) serta kompresi jantung luar.
Imobilisasi leher, spine dan fraktur                                                                      
Semua pasien dengan trauma tumpul yang luas harus dicurigai terjadi trauma spinal, dan pencegahan harus dilakukan untuk imobilisasi spine dan mencegah  trauma lebih lanjut. Identifikasi dan pembidaian fraktur dan imobilisasi semua bagian yang cedera sebelum dirujuk sangat esensial dalam pertolongan pertama. Penangan yang tidak tepat pada pasien cedera dapat memperburuk atau prolong shock dan memperburuk cedera yang ada melewati batas kemungkinan perbaikan. “Splint’em where they lie!” (lakukan pembidaian ditempat) aturan emergensi untuk fraktur yang hanya ada sedikit pengecualian, ketika harus memindahkan pasien dari bahaya api, ledakan, gas beracun dll. Imobilisasi harus dikerjakan dengan segera dan jangan memperlambat rujukan ke rumah sakit.
sumber : Current Diagnosis and Treatment surgery 12th Ed

Central venous cannulation (kanulasi vena sentral)

| 0 komentar
Teori 
Central venous cannulation adalah menempatkan kateter didalam vena yang langsung menuju jantung. Ada banyak vena central termasuk vena jugularis interna dan eksterna, vena subklavia, femoralis dan antecubital.
Untuk masing masing nya, perlengkapan dasar dan persiapannya sama. Kanulasi vena sentral dilakukan untuk mengakses vena pada TPN(total parenteral nutrition), infuse iritan, vasoaktif dan obat-obat inotropik, pengukuran CVP(central venous pressure), kateterisasi jantung, kateterisasi arteri pulmonal dan hemodialisis/plasmaphoresis.

 keterangan : A : vessel dilator, G : scalpel, C : guide wire, D : tubing
Peralatan
1.       Troli
2.       Set steril dan dook steril (steril drapes)

3.       Sterile gown dan hand schoen steril
4.       Alat jahit contoh : 2/0 silk, jarum jahit
5.       Antiseptic
6.       Local anestesi : lidokain 1% kira-kira 5 ml
7.       Seldinger central venous line kit.
8.       Jarum ukuran 21 dan ukuran 25 
keterangan : A : syringe dengan jarum ukuran 25/26, B : jarum ukuran 22, D : jarum ukuran 18
9.       Saline atau heparinized saline
10.   Kasa steril
11.   Ultrasound

Prosedur pada vena jugularis interna


  1. Perkenalkan diri, pastikan identitas pasien, terangkan prosedur dan dan verbal consent
  2. Ingat, ini dapat menjadi tindakan yang menakutkan. Menjelaskan dan menenangkan pasien harus dilakukan sebelum dan selama tindakan.
  3. Pasang steril gown dan sarung tangan steril
  4. Buka semua peralatan
  5. Pastikan jarumnya tidak tersumbat. Sambungkan 3-way kesemua port kateter. Siram semua lumennya/lubang dengan saline/heparinized saline
  6. Pasien diletakkan dalam posisi supine
  7. Biasanya lebih mudah dilakukan dalam posisi bed miring untuk mempebesar vena vena leher dan menurunkan resiko emboli udara
  8. Tolehkan kepala kearah berlawan dengan tempat dilakukan tindakan
  9. Bersihkan kulit dengan antiseptic dan tutup dengan dook steril
  10. Berdiri di posisi kepala tempat tidur
  11. Cari kartilago cricoids dan palpasi arteri karotis disebelah lateralnya
  12. Tempat insersinya kira kira 1/3 bagian atas dari sternocleidomastoid (1/3 of the way up the sternocleidomastoid, just between its 2 heads).
  13. Lakukan anestesi local setelah tempat ditentukan
  14. Infiltrasi kulit dan jaringan yang lebih dalam  
  15. Masukkan jarum (large caliber introducer needle), yang terpasang pada syringe kosong, kebagian tengah dari segitiga yang terbentuk oleh dua ujung bawah otot sternokleidomastoid (2 lower heads of the sternocleidomastoid muscle) dan klavikula.
  16. Jari tetap meraba arteri karotis dan pastikan jarum masuk pada kulit dilateral dari arteri.
  17. Vena jugularis interna biasanya 2-3 cm dari kulit
  18. Tusukkan sekalian lakukan aspirasi. Saat terlihat darah, kanulasi vena menggunakan teknik seldinger
  19. Lakukan chest X ray untuk memastikan posisi kateter yang benar untuk menghindari pneumotorak

Prosedur pada vena subklavia
  1. Perkenalkan diri, pastikan identitas pasien, terangkan prosedur dan dapatkan verbal consent
  2. Posisi pasien supinasi dan menunduk
  3. Tolehkan kepala kearah kontralateral
  4. Tindakan full asepsis
  5. Masukkan jarum degan syringe 10ml, 1cm dibawah pertemuan dari 1/3 medial dan 2/3 lateral klavikula
  6. Tusukkan jarum dengan posisi kemedial, sedikit kearah kepala dan dibelakang klavikula kearah cekungan suprasternal
  7. Pelan pelan dimajukan sambil di aspirasi
  8. Ketika kelihatan aliran darah dilanjutkan dengan pendekatan teknik seldinger.
  9. Lakukan rontgen torak untuk memastikan posisinya
VIDEO PEMASANGAN CENTRAL VENOUS CANNULATION
melalui vena jugularis interna (video 1) vena subclavia (video 2)





    Abdominal pain (Nyeri Abdomen)

    Jumat, 03 Desember 2010

    | 0 komentar
    Seperti nyeri pada region yang lainnya, nyeri abdomen muncul dengan berbagai cara dan mempunyai banyak penyebab yang berbeda. Kita harus menentukan letaknya, radiasi, keparahan, karakter, frekuensi, durasi, faktor pemicu dan yang mengurangi gejala dan gejala lain yang berhubungan.
    Letak / lokasi
    Seperti kebanyakan organ, nyeri pada abdomen tidak dapat dirasakan secara langsung, nyeri dipancarkan(dialihkan) kedinding abdomen sesuai dengan asal embriologi organ tsb.(nyeri viseral)

    Nyeri visceral dimediasi terutama oleh serat aferen C pada dinding lumen organ visceral dan pada kapsul solid organ. Tidak seperti nyeri kutaneus nyeri visceral dielisitasi oleh distensi, inflamasi atau iskemik yang merangsang reseptor neuron atau keterlibatan langsung saraf sensoris ( infiltrasi keganasan)
    -     Minta pasien untuk menunjukkan lokasi nyeri. Mereka akan kesusahan yang mengindikasikan bahwa area nyeri yang luas. Dalam keadaan ini minta pasien untuk menggunakan satu jari dan tunjuk daerah dengan intensitas nyeri yang maksimum.
    Lokasi nyeri perut dan asal embriologi nya
    -          Epigastrik : Foregut (lambung, duodenum, hati, pancreas, empedu)
    -          Periumbilikal : Midgut ( usus halus dan usus besar termasuk apendiks)
    -          Suprapubik : Hindgut ( rectum dan organ urogenital)

    Nyeri yang sangat terlokalisasi dapat berasal dari peritoneum parietal(nyeri somatik). 
    Nyeri parietal di mediasi oleh serat saraf delta C dan A, yang bertanggung jawab atas tranmisi nyeri yang sangat akut, tajam, sensasi nyeri yang lebih terlokalisir. Iritasi langsung inervasi somatic peritoneum parietal (khususnya bagian atas dan anterior) oleh pus, urine atau secret gastrointestinal mengarahkan ke keadaan nyeri yang sangat terlokalisir
    Contoh : apendiksitis dapat berawal sebagai nyeri umbilical (referred pain) lalu berpindah ke fossa iliaka kanan sejalan dengan penyebaran inflamasi ke peritoneum yang menutupi apendiks


    Table. Sensory Levels Associated with Visceral Structures.
    Structures
    Nervous System Pathways
    Sensory Level
    Liver, spleen, and central part of diaphragm
    Phrenic nerve
    C3–5
    Peripheral diaphragm, stomach, pancreas, gallbladder, and small bowel
    Celiac plexus and greater splanchnic nerve
    T6–9
    Appendix, colon, and pelvic viscera
    Mesenteric plexus and lesser splanchnic nerve
    T10–11
    Sigmoid colon, rectum, kidney, ureters, and testes
    Lowest splanchnic nerve
    T11–L1
    Bladder and rectosigmoid
    Hypogastric plexus
    S2–4

    Radiasi
    Tanyakan ke pasien apakah dia merasakan nyeri pada tempat lain atau terdapat jenis nyeri yang lain ( yang mungkin tidak berhubungan dengan radiasi nyeri abdomennya) . beberapa contoh :
    -          Scapula kanan : kantong empedu
    -          Ujung bahu : iritasi diafagma
    -          Pertengahan punggung : pankreas

    Karakter
    -          Nyeri kolik : merupakan nyeri yang hilang timbul (comes and goes in waves) yang menunjukkan suatu obstruksi organ berongga (lumen), organ yang berdinding otot (usus, empedu, duktus biliaris, ureter)
    -          Burning : biasanya mengindikasikan karena pengaruh asam dan berhubungan dengan lambung, duodenum atau bagian distal esofagus

    Beberapa karakter nyeri :
    • Kolik renal : nyeri kolik pada renal angle, yang nyeri bila ditekan, menjalar ke panggul/skrotum/labia. Khasnya  pasien tidak dapat menemukan posisi yang dapat mengurangi nyeri
    • Nyeri kandung kemih : nyeri difus yang hebat di regio suprapubik.
    • Nyeri prostat : nyeri tumpul yang dirasakan di lower abdomen, rectum, perineum atau paha anterior
    • Nyeri uretra : sangat bervariasi mulai dari ketidaknyamanan hingga nyeri tajam yang hebat yang dirasakan pada ujung akhir uretra (ujung penis pada pria) dan semakin nyeri saat miksi. Bisa sangat parah sehingga pasien akan berusaha menahan kencingnya yang dapat menimbulkan masalah baru !!!!
    • Obstruksi usus halus : nyeri kolik sentral yang berhubungan dengan muntah, distensi dan konstipasi
    • Nyeri kolon : kadang kadang nyeri dapat berkurang sementara oleh defekasi atau flatus
    • Iskemik usus : tumpul, hebat, tetap/konstan, nyeri abdomen kuadran kanan atas/sentral yang meningkat saat makan
    • Nyeri kantung empedu : hebat, tetap/konstan, nyeri kuadran kanan atas/ epigastrik dan sering memburuk setelah makan makanan yang berlemak (fatty foods)
    • Nyeri pancreas : epigastrium, menjalar ke punggung, membaik saat duduk dan posisi condong kedepan.
    • Nyeri ulkus peptic : tumpul, nyeri terbakar (burning) di epigastrium. Khasnya episode malam, membangunkan pasien dari tidur. Diperparah oleh makan dan kadang kadanga dikurangi dengan minum susu atau antasida.
    Gejala lain yang berhubungan dengan nyeri abdomen
    Anorexia, nausea dan muntah, konstipasi atau diare sering menyertai nyeri abdomen, tetapi bukan merupakan gejala yang spesifik sehingga tidak memiliki nilai diagnostic yang tinggi
    MUNTAH
    Saat distimulasi oleh serat aferen visceral sekunder, the medullary vomiting centers mengaktivasi serat eferen yang menginduksi reflex muntah. Oleh karena itu, nyeri abdomen akut (acute surgical abdomen) biasanya terdapat muntah yang juga berlaku sebaliknya .
    KONSTIPASI
    Reflex ileus sering diinduksi oleh serat aferen visceral yang merangsang serat eferen saraf simpatis(splanchnic nerves) untuk menurunkan peristaltic usus. Konstipasi merupakan indicator absolute obstruksi usus. Namun obstipasi (tidak adanya pasase feses dan flatus) diperkirakan kuat sebagai obstruksi usus mekanik jika ada distensi abdomen dengan nyeri yang progresif atau muntah yang berulang.
    DIARE
    Watery diare yang banyak merupakan karakterisktik dari gastroenteritis dan penyebab lain akut abdomen. Diare berdarah diperkirakan colitis ulseratif, crohn disease, basilar atau disentri amuba.
    GEJALA SPESIFIK LAINNYA
    Yang sangat membantu jika ditemukan. Ikterik menunjukkan kelainan hepatobiliar, hematoskezia atau hematemesis : lesi gastroduodenal atau Mallory-weiss sindrom, hematuria : kolik ureter atau cystitis. Ditemukan bekuan darah atau debris dari nekrosis mukosa dapat sebagai bukti iskemia usus lanjut.

    Riwayat lain yang relevan
    Riwayat gynekologis
    Riwayat menstruasi cukup penting untuk mendukung diagnose kehamilan ektopik, mittelschmer ( rupture folikel ovarium) dan endometriosis. Riwayat vaginal discharge atau dismenorea menunjukkan pelvic inflammatory disease.
    Riwayat obat-obatan
    Antikoagulan terlibat dalam hematoma retroperitoneal dan intramural duodenum dan jejunum, kontrasepsi oral dalam pembentukkan benign hepatic adenoma dan infark vena mesenterium. Kortikosteroid dapat menutupi gejala klinis bahkan peritonitis lanjut.
    Riwayat keluarga
    Riwayat perjalanan
    Dapat meningkatkan resiko abses hati amoeba atau hydatid cyst, malarial spleen, tuberculosis, salmonella typhi infeksi pada area ileosaecal atau disentri
    Riwayat operasi
    Riwayat operasi sebelumnya pada abdomen, vascular, thorak atau groin mungkin berhubungan dengan penyakitnya sekarang.



    pemeriksaan fisik

    Table. Steps in Physical Examination of the Acute Abdomen.
    1. Inspection
    2. Auscultation
    3. Cough tenderness
    4. Percussion
    5. Guarding or rigidity
    6. Palpation
      One-finger
      Rebound tenderness
      Deep
    7. Punch tenderness
      Costal area
      Costovertebral area
    8. Special signs
    9. External hernias and male genitalia
    10. Rectal and pelvic examination





    Table. Physical Findings in Various Causes of Acute Abdomen.
    Condition
    Helpful Signs
    Perforated viscus
    Scaphoid, tense abdomen; diminished bowel sounds (late); loss of liver dullness; guarding or rigidity.
    Peritonitis
    Motionless; absent bowel sounds (late); cough and rebound tenderness; guarding or rigidity.
    Inflamed mass or abscess
    Tender mass (abdominal, rectal, or pelvic); punch tenderness; special signs (Murphy's, psoas, or obturator).
    Intestinal obstruction
    Distention; visible peristalsis (late); hyperperistalsis (early) or quiet abdomen (late); diffuse pain without rebound tenderness; hernia or rectal mass (some).
    Paralytic ileus
    Distention; minimal bowel sounds; no localized tenderness.
    Ischemic or strangulated bowel
    Not distended (until late); bowel sounds variable; severe pain but little tenderness; rectal bleeding (some).
    Bleeding
    Pallor, shock; distention; pulsatile (aneurysm) or tender (eg, ectopic pregnancy) mass; rectal bleeding (some).
    sumber : 
    oxford handbook of clinical examination practical skills
    Current Diagnosis And Treatment Surgery 


    video 'abdominal examination'





    .

    following

    Diberdayakan oleh Blogger.